Tahukah kamu kalau pohon Natal bukan sekadar hiasan estetik saat Desember tiba? Tradisi ini ternyata berawal dari kisah iman Santo Bonifasius, seorang misionaris Katolik di abad ke-8. Saat mewartakan Injil di wilayah Jerman, ia menemukan bahwa masyarakat setempat menyembah pohon ek besar yang dianggap suci dan dipersembahkan kepada dewa Thor. Dengan penuh iman dan keberanian, Santo Bonifasius menebang pohon tersebut untuk menunjukkan bahwa hanya Tuhanlah sumber kehidupan sejati.
Menariknya, setelah pohon ek itu roboh, tumbuhlah pohon cemara kecil yang tetap hijau di tengah dinginnya musim. Santo Bonifasius lalu menggunakan pohon cemara ini sebagai simbol iman Kristiani. Bentuknya yang mengarah ke atas mengajak orang untuk selalu mengarahkan hidup kepada Tuhan, sementara warna hijaunya melambangkan harapan dan hidup kekal yang dibawa oleh kelahiran Yesus Kristus. Dari sinilah pohon cemara mulai dipakai sebagai sarana pewartaan iman yang sederhana tapi penuh makna.
Seiring waktu, pohon cemara berkembang menjadi pohon Natal yang kita kenal sekarang. Lampu-lampu yang menghiasinya mengingatkan kita bahwa Yesus adalah Terang Dunia, sementara bintang di puncak pohon mengarah pada kisah Bintang Betlehem. Jadi, setiap kali kita melihat pohon Natal, kita diajak bukan hanya menikmati keindahannya, tetapi juga mengingat pesan iman: Natal adalah tentang harapan, terang, dan kasih Tuhan yang hadir di tengah dunia