Gereja Katolik memperingati Hari Raya Anak-Anak Kudus untuk mengenang anak-anak di Betlehem yang dibunuh atas perintah Raja Herodes, sebagaimana dicatat dalam Injil Matius (Mat. 2:16–18). Peristiwa ini terjadi ketika Herodes merasa terancam oleh kelahiran Yesus, Sang Raja yang baru lahir. Anak-anak yang tidak berdosa itu menjadi korban dari ketakutan dan ambisi manusia, namun oleh Gereja dikenang sebagai bagian dari kisah keselamatan yang menyertai kehadiran Kristus di dunia.
Meskipun mereka belum mengenal Kristus secara sadar, Anak-Anak Kudus Betlehem dihormati sebagai martir. Mereka wafat bukan karena pilihan pribadi, melainkan karena kehadiran Kristus yang membawa terang dan kebenaran. Gereja memandang kematian mereka sebagai kesaksian iman yang sunyi namun kuat, bahwa sejak awal kelahiran-Nya, Kristus telah menghadapi penolakan dan penderitaan, namun terang-Nya tidak pernah padam.
Peringatan Hari Raya Anak-Anak Kudus menjadi ajakan bagi umat beriman untuk merenungkan nilai luhur setiap kehidupan manusia, terutama kehidupan anak-anak yang lemah dan tak berdaya. Gereja mengingatkan pentingnya melindungi dan menghargai kehidupan sejak awal, serta menolak segala bentuk kekerasan dan ketidakadilan yang merendahkan martabat manusia.
Apakah kehadiran Kristus yang lahir ke dunia sungguh telah mengubah cara kita memandang kehidupan, terutama mereka yang kecil dan tak bersuara? Di tengah terang Natal, sudahkah kita memilih untuk menjadi pelindung dan pembawa kasih bagi sesama? Semoga dengan kelahiran Kristus di dunia, hati kita semakin digerakkan untuk hidup dalam kasih, kepedulian, dan damai-Nya setiap hari.